Hirotada Ototake


Hari itu, tanggal 6 April 1976, sinar matahari lembut menyinari pepohonan Cherry yang bunganya sedang mekar-mekarnya. Hari itu tak kan pernah terulang dalam hidupnya tapi akan terus diperingatinya setiap tahun. Hari itu adalah hari yang paling indah dalam kehidupannya sebagai seorang anak.

Ya, itu jerit tangis yang pertama, bayi laki-laki yang kuat, yang lahir dari pasangan yang saling mencintai. Sungguh, hari itu sangat membahagiakan, kecuali ada satu hal yang tidak biasa; bayi itu lahir dengan anggota tubuh yang tak lengkap. Dia tidak memiliki tangan dan kaki.

Aku menyandang Tetra-amelia adalah suatu keadaan di mana seseorang dilahirkan tanpa memiliki tangan dan kaki. keadaan itu bukan disebabkan oleh proses persalinan yang sulit, atau penggunaan obat talidomid yang memiliki efek samping berbahaya seperti yang sempat dipublikasikan oleh media pada saat itu. Penyebabnya masih belum diketahui.

Pada suatu hari Oto pulang ke rumah setelah pelajaran sekolah selesai. Dia mengatakan kepada kedua orang tuanya bahwa dia sudah mendaftarkan diri untuk bermain basket. kebanyakan orang tua tentu senang mendengarnya. Tetapi mereka justru terkejut. bagaimana hal itu mungkin ?

Di hari pertamanya, dia telah membawa perasaan optimis di antara orang-orang yang berada di sekelilingnya. Mulai dari murid-murid taman kanak-kanak yang penuh rasa ingin tahu, anggota dewan pendidikan yang selama ini bersikap skeptis, sampai orang-orang yang lalu lalang. Mereka semua tidak mampu menahan keinginan Oto yang keras.

Sekarang sebagai seorang yang telah dewasa, Oto tetap melanjutkan apa yang menjadi prinsipnya yakni menegakkan sebuah lingkungan “bebas rintangan” bagi orang lain, baik dalam lingkungan pemerintahan, media, dan di hadapan orang-orang yang dia temui. Bukunya telah terjual lebih dari empat juta kopi di Jepang. Dia telah mengubah cara pandang orang banyak terhadap orang cacat.

Tanpa nada sentimental, pesan oto langsung mengena di hati sanubari pembacanya. Walaupun kita memerlukan keberanian dan tenaga dalam menghadapi orang cacat, kita juga memerlukan pengertian dari orang-orang yang berbeda disekeliling kita.Orangtua yang tabah dan guru cerdas memberikan harapan bagi Oto untuk memdapat kesempatan dalam kehidupan yang normal. Balap lari, belajar berenang, bahkan berkelahi, membuat teman-teman sekelasnya merasa “Dia adalah salah satu dari kita”. Jadi mereka juga berkeinginan untuk menghadapi semua rintangan yang dihadapinya.

Leave a Comment