Senandung Tengah Malam
Author V.Lestari
“Orang menyebutku Fifi Algojo!”
“Dan orang menyebutku Agus Setan!”
Demikian pengakuan Fifi dan Agus.
Awal timbulnya sebutan itu adalah kejadian di masa lalu. Tapi bukan sekedar sebutan yang dapat merupakan peninggalan masa lalu, melainkan juga penampilan fisik dan tingkah laku.
Agus cacat. Wajahnya buruk dan seram. Sebahagian tubuhnya lumpuh. Dan hari-hari yang panjang dilaluinya di atas kursi roda.
Fifi berumur empat puluh delapan tahun, tapi keadaan fisiknya dua puluh tahun lebih tua. Dan tingkah lakunya dinilai kurang wajar oleh mereka yang merasa dirinya normal. Salah satu kesukaannya adalah bersenandung di tengah malam, saat orang normal menikmati tidur.
Senandung Fifi itu khas. Bukan Cuma hobi. Bukan pula ungkapan kegembiraan. Tapi mempunyai arti khusus yang Cuma dapat dirasakan oleh dirinya sendiri. Namun bagi para pendengarnya, senandung itu diartikan lain lagi. Yaitu, sesuatu yang mengerikan! Dan sesuatu itu dianggap jadi pertanda porak-porandanya panti wredha di mana Fifi tinggal.
Berkali-kali peristiwa kematian terjadi dip anti wredha itu. Meskinya wajar saja, karena orang yang sudah tua dengan sendirinya dekat pada kematian. Tapi Fifi menuduh, bahwa peristiwa-peristiwa tersebut terjadi dengan tidak wajar. Ketakutannya timbul setelah tahu, bahwa panti wredha itu milik Agus, padahal ia yakin Agus menaruh dendam kepadanya. Tidakkah ia bisa jadi korban berikutnya?.
Ternyata Fifi memang menjadi korban yang terakhir!.

Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed