
Sejak kecil, Schweitzer termasuk anak yang adil dan kaya akan perasaan cinta, dia selalu menyadari kekuarangan yang ada pada dirinya. Kalau menyaksikan peristiwa tragis, dia akan sakit hati, sedih dan berusaha memikirkan cara pemecahannya. Bila memperoleh suatu kebenaran setelah dia berpikir matang, maka akan dilaksanakan hingga tuntas. Pelatihan batin yang terus menerus, lambat laun membentuk kepribadiannya yang ulet dan tabah.
Keberhasilan Albert Schweitzer, selain didasari rasa cinta kasih dan ketabahannya, juga berkaitan erat dengan latar belakang keluarga serta jasa orang tuanya. Karena pendidikan keluarga yang diberikan padanya sangat baik, membuatnya tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih.
Tatkala berusia 21 tahun, dia kembali ke kampung halamannya. Di suatu pagi yang cerah, begitu bangun dari mimpinya yang indah, dia merasa dirinya adalah orang yang amat bahagia, dalam benaknya terbersit bayang-bayang betapa banyak orang yang menderita. Sehingga setelah renungan yang panjang, dia mengambil keputusan sebelum 30 tahun, akan sekolah dengan baik, belajar seni, dan setelah 30 tahun, akan mengabdikan pengetahuan yang diperolehnya sebagai sarana membantu mereka yang membutuhkannya.
Sebelum lulus perguruan tinggi, dekan filsafat memberikan tawaran untuk menjadi dosen di Perguruan Tingginya. Tapi Schweitzer berpikiran lain, menurutnya bila dia menjadi dosen, dengan sendirinya tentu akan meninggalkan pekerjaannya sebagai pendeta yang mengemban tugas mulia yaitu: menyebarkan kabar gembira, hal ini tidak sesuai dengan cita-citanya. Baginya, setiap minggu berdiri di atas mimbar, memberi penjelasan pada jemaat mengenai jalan kebenaran, barulah pekerjaan mulia. Maka dia menolak tawaran tersebut, meneruskan pekerjaannya sebagai penyebar injil dan memperdalam bidang keagamaan.
Suatu hari di usianya yang ke-29, begitu mendengar kabar bahwa penduduk Afrika sangat membutuhkan tenaga medis, dia memutuskan untuk ke sana memberi pertolongan. Dianggapnya ini misi ‘Pangilan Tuhan’.
Makanya, dia rela menanggalkan gelarnya sebagai seniman dan penuntut ilmu nomor satu yang diberikan oleh kalangan Eropa. Ia memulai lagi suatu perjalanan panjang di lorong ilmu kedokteran. Keputusan ini tidak disetujui oleh keluarga maupun teman-teman dekatnya. Namun, tatkala Albert membutuhkan biaya ke Afrika, mereka dengan senang memberikan bantuan.
Helan sangat mengagumi kepribadian Albert yang mulia, sehingga mau menyumbangkan tenaganya saat Albert membutuhkan, bahkan meluangkan waktu untuk belajar keahlian dalam bidang perawatan, lalu ia menikah dengan Albert dan bersama ke Afrika mengabdikan diri selama 30 – 40 tahun disana.
Ketika sampai di Afrika, ia segera memulai misi pengobatan. Kesulitan dan penderitaan disana tidak bisa dirasakan oleh yang belum mengalaminya. Yang mendukung mereka adalah ‘jiwa cinta kasih’. Dengan pola pengorbanan yang tak mengenal penyesalan dan keluhan, mereka menyebarkan cinta kasih pada bangsa primitif. Mereka adalah pelaksana cinta kasih sejati.
Tatkala perang dunia I, Albert merasakan betapa api perang telah menghancurkan makhluk hidup, dari dasar lubuk timbul pandangan ‘menghargai kehidupan’. Karena kalau manusia bisa saling menghargai satu sama lain, tentu tak akan timbul perang, atau bila dijabarkan secara luas, manusia hendaknya menghargai segala yang bernyawa, agar dunia penuh dengan kedamaian abadi. Berdasarkan pemikiran ini, maka di satu sisi dia menyerukan keras-keras agar manusia hidup damai. Di sisi lian,dalam kehidupan sehari-harinya dia menerapkan teori ‘menghargai kehidupan’, sampai tempat tinggalnya menjadi taman ria sekaligus tempat perlindungan bagi binatang yang lemah.
Di sekitar kita, betapa banyak orang yang suka menemukan pelaksana sejati, yang mau berkorban demi kebahagian sesama. Sehingga pengabdian Albert tampak begitu berharga. Penghargaan dunia padanya karena dia seorang pelaksana cinta kasih sejati.
Sumber dari buku Seri Tokoh Dunia Albert Schweitzer
Karangan Cho Heng ye