Posted on 01 November 2009 by admin
Di Bullerbyn kami punya banyak pohon ceri. Setiap tahun buanya bukan main banyaknya. Karen buah-buah itu tak habis kami makan sendiri. Lasse mengusulkan agar kami mendirikan perusahaan Buah Ceri. Buah-buah ceri itu kami jual di tepi jalan raya tak jauh dari Storbyn. Wah, larisnya! Tiga keranjang penuh langsung habis. Kami senang sekali.
Tetapi bukan hanya berjualan buah ceri saja yang menyenangkan di Bullerbyn. Banyak sekali lainnya. Seperti ketka aku menjadi ibu angkat Pontus, anak kambing, dan suatu hari kuajak dia ke sekolah. Juga ketika gigi Olle copot. Waktu itu, Lassie, Bosse, dan Olle senang karena lalu punya kotak wasiat. Sedangkan aku, Britta dan Anna juga sengan karena bisa mempermainkan mereka. Belum lagi ketika kami merayakan pesta pertengahan musim panas. Yang lebih asyik lagi, ketika ayah dan ibu Olle harus pergi ke pesta. Soalnya saat itu aku dan Anna diizinkan menjaga Kestin yang manis! Yah, hidup di Bullerbyn memang selalu menyenangkan!
Author Astrid Lindgren
Posted on 01 November 2009 by admin
“Malam ini Pippi si Kaus Panjang akan menggunduli pohon Natal di Pondok, Serbaaneka. Semua anak boleh datang tapi harus berpakaian!” Demikian bunyi pengumuman yang ditempel di pintu gedung balai kota pada suatu hari ketika anak-anak pun berbondong-bondong menuju ke Pondok Serbaneka. Tak ketinggalan Thomas dan Annika yang berjalan paling depan.
Satu lagi cerita baru Pippi si Kaus Panjang untuk penggemar-penggemar dan kalian yang ingin mengenalnya!
Author Astrid Lindgren
Posted on 01 November 2009 by admin
Bullerbyn nama desa kami. Artinya Desa Ribut. Desa kami itu kecil sekali. Cuma ada tiga rumah di situ, dan enam anak, aku sendiri ( namaku Lisa ), Lasse, Bosse, Britta, Anna, dan Olle. Meskipun cuma berenam, kalau kami bermain bersama, desa kami memang jadi ribut sekali. Padahal kami memang selalu bermain bersama. Setiap hari ada-ada saja yang kami alami. Kami bermain rumah-rumahan. Membuat gubuk dalam semak, lalu bermain Indian-indiana. Tidur di atas tumpukan jerami, Berdandan seperti pengembara kesasar, lalu menakut-nakuti Agda, pembantu kami. merencanakan melarikan diri dari rumah. Bahkan bekerja pun bagi kami serasa bermain. Pernah kami bekerja di ladang, lalu kehujanan dan pulangnya malah kami mendapat anak kucing! Pokoknya, tinggal di Bullerbyn asyik deh!
Author Astrid Lindgren
Posted on 31 October 2009 by admin
Emil lagi ! Lagi-lagi Emil! Kenakalan apa lagi yang diperbuatnya? Mula-mula dia membuat ayahnya marah sekali, karena Emil membeli barang-barang tak berguna di tempat lelang Backhorva: ayam betina yang pincang, pompa pemadam kebakaran yang karatan, kotak kuno yang jelek, dan penyorong kue yang kepanjangan. Tapi dasar Emil banyak akal, semua yang dibelinya tadi ternyata malah amat menguntungkan.
Jadi, mengapa Emil mengikat gigi Lina dengan tali panjang, lalu menarik tali itu sambil memacu Lukas kudanya? Mengapa dia membuat ayam-ayam dan babinya mabuk dengan memberi mereka ampas anggur buah ceri? Lalu dia sendiri ikut mabuk….. Sungguh memalukan. Dan mengapa pula dia mengurung ayahnya di Pondok Trisse ?
Tapi … jangan salah sangka. Biarpun nakal, sebenarnya Emil baik hati dan penyayang. Buktinya, dia rela menembus badai salju, membawa Alfred — yang jatuh sakit parah — ke dokter di Mariannelund yang jauh, sendirian dan hanya dibantu Lukas. Perbuatannya sungguh terpuji. Alfred berhasil diselamatkan. Ya… semua beres kalau ada Emil.
Author Astrid Lindgren
Posted on 31 October 2009 by admin
Kenalkah kau PIPPI SI KAUS PANJANG — anak paling kuat di dunia, yang mukanya penuh bintik dan rambut merahnya dikepang dua, mencuat di kiri-kanan kepalanya ?
Pippi yang periang ini tinggal sendirian di Pondok Serbaneka. Meskipun demikian dia tidak kesepian. Kan ada kuda dan Tuan Nilsson, monyetnya, yang menemaninya. Selain itu ada juga Thomas dan annika, teman bermain Pippi yang tinggal di rumah yang bersebelahan dengan Pondok Serbaneka. Mereka tidak hanya bermain bersama, tetapi ke mana-mana juga bertiga. Termasuk berbelanja dan ke pasar malam. Bahkan, ketika sekolah Thomas dan Annika mengadakan piknik, Pippi juga ikut.
Tetapi pada suatu hari ayah Pippi datang. Ayah Pippi ini raja di Pulau Taka-Tuka. Dia mengajak Pippi berlayar bersamanya dan menjadi Puteri di Pulau Taka-Tuka. Pippi senang sekali. Tetapi Thomas dan Annika sedih. Siapa lagi yang akn menemani mereka bermain kalau Pippi sudah pergi ?
Author Astrid Lindgren
Posted on 13 October 2009 by admin
Kalle, si detektif ulung, kembali terlibat petualangan seru bersama teman-temannya. Seorang rentenir tua ditemukan mati terbunuh di prairi. Pembunuhnya lolos, tapi Eva-Lotta sempat melihat wajahnya. Si pembunuh yang ketakutan berusaha meracuninya, tapi gagal. Lalu, ketika anak-anak itu sedang bermain-main di sebuah menara tua, tiba-tiba muncul si pembunuh. Mereka disekap dan akan ditembak. Untung ada kalle yang cerdik. Otaknya berputar cepat, mencari jalan keluar.
Author Astrid Lindgren
Posted on 11 October 2009 by admin
Pernahkan kau mendengar kisah Emil ? Belum? Ah, masa! Di Lonneberga, tak seorang pun tak kenal dia Emil si badung dari Katthult, tak henti-hentinya berbuat kenakalan. Bayangkan saja, dia mengguyur ayahnya dengan adonan dadih darah dan menyulut tumpukan kembang api sehingga membuat seluruh penduduk Vimmerby panik dan kalang kabut karena menyangka ada komet jatuh. Yang lebih asyik lagi adalah ketika dia mendatangkan semua penghuni panti penampungan tuna wisma dan membuat “pesta sikat bersih” di katthult!
Author Astrid Lindgren
Posted on 11 October 2009 by admin
Emil nama seorang anak laki-laki kecil yang tinggal di Lonneberga, Swedia. Umurnya lima tahun. Matanya biru dan bundar. Pipinya kemerah-merahan. Rambutnya pirang dan agak keriting.
Kelihatannya si Emil ini manis sekali, seperti malaikat mungil. Tapi itu cuma kelihatannya saja. Sebab sebetulnya si Emil ini badungnya bukan main. Bayangkan saja, masa kepalanya dimasukan ke dalam mangkuk sup, sampai tak bisa dikeluarkan, dan adinya dikerek ke atas tiang bendera! Tapi itu cuma dua contoh kebadungan Emil. Masih banyak lagi yang lainnya!
Author Astrid Lindgren
Posted on 11 October 2009 by admin
Namaku Lisa. Aku bersama kedua kakakku, Lasse dan Bosse, dan teman-temanku, Britta, Anna, dan Olle tinggal di bullerbyn. Rumah kami berdekatan, hanya dibatasi pohon-pohon. Jadi setiap hari kami bisa bertemu dan bermain bersama. Kami merayakan Ntal bersama, menunggu dtangnya Tahun baru juga bersama.
Ada-ada saja yang kami alami di Bullerbyn. Berpesta di rumah bibi Jenny, merayakan Paskah, merayakan ulang tahun kakek, memburu hantu air. Bahagia sekali rasanya tinggal di bullerbyn. Kebahagia kami bertambah-tambah ketika Olle mendapat adik perempuan yang mungil dan manis. Dan karena ibu Guru berpesan agar kami selalu berusaha membahagiakan orang lain juga, kami pun mencobanya……
Author Astrid Lindgren
Posted on 11 October 2009 by admin
Jonas, Maria, dan Lotta adalah anak-anak keluarga Nyman. Mereka anak-anak yang cerdas dan banyak akalnya. Kalau ada mereka, apa saja bisa terjadi. Terjatuh dari jendela, tercebur ke danau, berhujan-hujan agar cepat besar — seperti tanaman — dan macam-macam lagi. Anak-anak yang lincah dan periang ini membuat siapa saja yang mengenalnya tertawa — tetapi kadang-kadang juga kalang kabut. Terutama Lotta, si bungsu yang lucu dan ulahnya tak pernah bisa diduga.
Author Astrid Lindgren
Posted on 11 October 2009 by admin
Karl penyakitan dan penakut, tidak seperti Jonatan kakaknya yang perkasa dan oemberani. Tetapi di Nangijala, negeri nun jauh di balik angkasa di antara bintang-bintang, semuanya berubah. Jonatan dan Karl menjadi kakak-beradik Hati Singa yang melawan naga dan menyelamatkan Lembah Mawar Berduri.
Author Astrid Lindgren
Posted on 11 October 2009 by admin
Ronya adalah gadis kecil anak kepala penyamun Mattis yang lahir pada malam hujan badai. Waktu petir menyambar-nyambar di atas benteng mattis. Hidupnya penuh dengan keindahan hutan, sungai, musim panas, salju dan kuda. Tapi ada tiga hal yang perlu diwaspadai: grymklo liar, gnoma kelabu, dan penyamun Borka.
Tapi pada suatu hari Ronya diselamatkan oleh Birk, anak kepala penyamun Borka! Meski orangtua mereka bermusuhan, dua anak itu malah mengikat tali persaudaraan. Akhirnya Ronya dan Birk memilih tinggal di hutan demi menunjukkan bahwa kasih persaudaraan mereka bisa mengalahkan segala kebencian.
Author Astrid Lindgren
Posted on 11 October 2009 by admin
Madicken sebenarnya bernama Margareta. Tetapi waktu masih kecil, dia memanggil dirinya Madicken. Sekarang, walaupun hampir berumur tujuh tahun, dia masih juga dipanggil Madicken. Hanya kalau sedang nakal dan harus ditegur, dia dipanggil Margareta. Dan dia sering dipanggil Margareta, karena di Junibacken setiap hari terjadi petualangan seru dan juga kehebohan. Seperti ketika madicken dan Lisabet, adiknya, sedang piknik di atas atap gudang.
Waktu itu mereka melihat seekor burung terbang makin lama maikin tinggi. Madicken jadi ingin terbang juga. Abbe pernah bercerita, dalam peperangan ada orang yang meloncat dari pesawat terbang dan terjun menggunkan payung besar. Kalau dari pesawat terbang yang beribu-ribu meter tingginya dari tanah bisa, dari atap gedung tentunya juga bisa, pikir Madicken……
Author Astrid Lindgren
Posted on 10 September 2009 by admin
Kepolisian Stockholm mencari anak laki-laki berumur 9 tahun bernama Bo Vilhelm Olsson, yang hilang dari rumahnya di Upplandsgatan No. 13 sejak pukul 18:00 dua hari lalu. Bo Vilhelm Olsson berambut pirang dan bermata biru. Saat hilang ia mengenakan celana pendek biru, sweter abu-abu, dan topi merah kecil. Siapa saja yang dapat memberikan informasi tentang keberadaan anak tersebut dimohon agar melapor ke kantor polisi setempat.
Tak ada yang tahu bahwa Bo Vilhelm Olsson sama sekali tidak hilang. Sekarang ia berada di Negeri nun Jauh bersama Ayahnya sang Raja. Namanya bukan lagi Bo, melainkan Mio. Di Negeri nun Jauh, Mio memiliki kuda bersuarai keemasan yang bisa terbang. Bersama kuda itu dan sahabatnya, Jum-jum, Mio pun mjulai bertualang. Ia mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah dilihatnya seumur hidup: Jembatan Sinar Pagi, Sumur yang Berbisik pada Malam hari. Hutan Kemilau Bulau, dan banyak tempat ajaib lainnya. Namun ada satu hal yang tidak diketahui Mio, ia harus bertarung melawan kesatria Kato yang kejam dan memiliki cakar besi. Berhasilkah Mio memenangi pertarungan itu ?
Author Astrid Lindgren