Posted on 11 October 2009 by admin
O Mungil berusia lima tahun. Dia tak kenal takut dan kadang-kadang keisengannya mengejutkan seluruh keluarga.
Suatu hari Mama pergi arisan dan kakak-kakaknya sibuk. O Mungil sudah bosan bermain sendiri. Dia lalu menelepon Papa di pabrik. Tapi karena belum pernah menelepon, tentu saja yang berhasil dihubunginya orang tak dikenal. Betapa kagetnya Mama dan Papa ketika kemudian ada orang mengirim dua ekor anak anjing ke rumah mereka!
Pernah juga O Mungil ngambek dan bersembunyi di atas pohon sampai tak bisa ditemukan.
Tapi yang lebih hebat lagi, dia tak takup pada Ben Tulang, jerongkong di sekolah Lars. O Mungil dengan beraninya memakaikan topi bututnya di atas kepala Ben Tulang yang tak berambut. Padahal semua anak di sekolah itu takut pada Ben Tulang!
O Mungil adalah buku keempat dalam seri yang mengisahkan tentang keluarga Larsson. Ketiga buku lainnya adalah: Tamasya Panci Ajaib, Tamasya Laut, dan si Bandel.
Author Edith Unnerstad
Posted on 11 October 2009 by admin
Si bandel berusia lima tahun dan keras kemauannya. Ketika dia ingin sekali punya anak ayam dan Mama tidak mengizinkannya, dia berkeras mengerami sendiri sebutir telur ayam. Pernah juga dia membuat orang serumah kalang kabut. Waktu dia naik bis sendiri ke luar kota, lalu menyeberang danau beku, hanya untuk mengambil bebeknya yang ketinggalan di kapal Rudolfina.
Masih banyak lagi petualangan si Bandel, semuanya lucu, mengasikkan, dan sekaligus menegangkan.
Si Bandel adalah buku ketiga dalam seri yang mengisahkan tentang keluarga Larsson. Ketiga buku lainnya adalah: Tamasya Panci Ajaib, Tamasya Laut, dan O Mungil
Author Edith Unnerstad
Posted on 11 October 2009 by admin
Bagi ketujuh Larsson bersaudara dan ayah-ibunya, tinggal berdesakan dalam apartemen dua-ruang terasa pengap, walau mereka tak keberatan tidur di atas papan setrikaan sekalipun. Jadi, ketika mendapat warisan berupa dua kereta dan dua ekor kuda penghelanya, langsung saja mereka memutuskan untuk turun ke jalan. Papa Larsson yang jenius mengutak-atik warisan itu hingga terjelmalah karavan yang gaya, walau agak aneh tampangnya. Dan ….di antara penemuan-penemuan Papa Larsson yang mutakhir, terdapat panci ajaib bergagang. Peep namanya nyaring lengkingnya. Usaha pemasaran Peep sepanjang jalan yang mereka lalui tidak hanya membuat tamasya ini ceria dan penuh kenangan, tapi sekaligus juga menjadikannya petualangan yang benar-benar dinikmati oleh seluruh keluarga Larsson.
Author Edith Unnerstad
Posted on 11 October 2009 by admin
Enam kakak beradik Peep-Larsson mendapat izin dari orang tua mereka untuk bertamasya laut selama satu bulan penuh! Mereka berlayar dengan Rudolfina, kapal layar kawakan yang masih laik laut. Enam anak ditambah seekor kucing — yang berhasil diselundupkan si cilik Pysen — berlayar sendiri tanpa pengawasan orang tua. Sungguh asyik!
Banyak hal menyenangkan yang mereka alamai selama pelayaran itu, seperti ketika mereka menjalin persahabatan dengak Kalle dan Vendla, panen arbei di Pulau Loko, atau ketika Persson si kucing punya anak di kapal! Tapi tak kurang pula kejadian yang menegangkan serta mendebarkan, seperti ketika Knut tercebur ke laut dan Pysen hilang!
Untunglah semua berakhir dengan baik, dan mereka pulang dengan membawa segudang kenangan serta pengalaman yang takkan terlupakan!
Author Edith Unnerstad