Posted on 07 September 2009 by admin
Ini adalah kisah masa kanak-kanak Almanzo Wilder, anak laki-laki yang di kemudian hari menikah dengan Laura ( baca Rumah kecil di Rimba Besar dan Rumah kecil di Padang Rumput ).
Almanzo Wilder tidak berkelana sebagai perintis seperti calon istrinya, karena ayahnya sudah memiliki tanah sendiri di neara bagian New York. Tetapi anak-anak keluarga Wilder juga harus bekerja keras — ternak dan ladang perlu diurus sepanjang tahun, dan mereka hanya pergi ke sekolah kalau tidak ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan.
Maka Almanzo bersama semua kakaknya membajak dan menyebar benih, menuai dan menggebuk gandum. Walaupun demikian dia juga banyak menikmati kegembiraan, seperti waktu Almanzoseminggu yang menyenangkan waktu mengolok-olok ayahnya untuk bergurau saat mencukur biri-biri, pergi ke Pekan Raya, pesiar di hari Natal, serta seminggu yang menyenangkan waktu keempat anak sendirian di perladangan melakukan apa saja yang mereka sukai. Sementara itu dalam Otak Almanzo selalu tersimpan pikiran yang menyenangkan, bahwa segera setelah dia menguasai semua pekerjaan di perladangan dia akan diberi seekor anak kuda untuk dijinakkannya sendiri.
Author Laura Ingalls Wilder
Posted on 07 September 2009 by admin
Laura dan Manly Wilder memulai kehidupan rumah tangga di rumah kecil tanah pertanian mereka dengan harapan-harapan gemilang. Dunia sekeliling mereka begitu indah bunga-bunga liar di musim semi, angsa liar di musim gugur, berkuda bersama dan banyak lagi masa-masa bahagia lainnya. Tetapi ternyata tiap tahun juga membawa berbagai bencana yang tak terduga — badai menghancurkan panenan, penyakit, kebakaran dan hutang-hutang yang tak kunjung terlunasi. Empat tahun pertama yang benar-benar menggoda untuk membuat keluarga Wilder itu patah semangat. Tetapi mereka menghadapi semuanya itu dengan ketabahan dua orang yang saling mencinta, ditambah oleh kehadiran putri mereka, Rose, dan keinginan yang tak kunjung padam untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Author Laura Ingalls Wilder
Posted on 07 September 2009 by admin
Laura bersama saudara-saudara perempuannya terpaksa harus tinggal di tempat yang aneh-aneh dalam perjalanan mereka ke daerah Barat yang belum dikenal. Tetapi di antara semua tempat ini tidak ada yang lebih aneh daripada rumah kecil yang dibuat di bawah tanggul sungai, yang merupakan awal kisah yang menarik dari buku ini. Siapa saja yang pernah membaca buku Rumah kecil di Rimba Besar dan Rumah Kecil di Padang Rumput pasti mengetahui bagaimana petualangan Pa dan Ma bersama anak-anak perempuan kecil serta anjing mereka yang bernama jack, ke rumah yang terakhir ini, dengan padang rumput yang terbentang luas di bawah sinar matahari. Karena satu dua keluarga lainnya juga menetap di situ, maka Laura dan Mary pergi ke sekolah untuk pertama kalinya. Di sana, mereka juga pertama kalinya mengadakan pesta.
Walaupun demikian, tempat itu tetap merupakan tempat yang masih ganas. Kawanan belalang sangat banyak sehingga membuat seperti awan tebal dan menyerang ladang yang hampir dituai. Kemudian datanglah badai salju yang dahsyat di musim dingin. Dan, apa yang terjadi pada Pa, waktu pergi untuk mengambil hadia Natal ? Jawaban untuk itu semua dan untuk pertanyaan lainnya tentang diri Laura dan keluarganya terdapat dalam buku ini.
Author Laura Ingalls Wilder
Posted on 07 September 2009 by admin
Laura Ingalls Wilder pergi ke San Francisco di tahun 1915 untuk mengunjungi anaknya yang sudah menikah, Rose Wilder Lane. Puluhan tahun telah lewat sejak Laura melintasi daerah barat-tengah, sebagai seroang anak dengan gerobak bertudung. Kini ia melakukan perjalanan jauh dari Missouri ke California dengan naik kereta api.
Sungguh tepat waktunya — saat itu san Fancisco sedang merayakan pembukaan Terusan Panama dengan mengadakan sebuah pekan raya dunia.
Karena Almanzo tidak bisa meninggalkan tanah pertaniannya, Laura menulis surat-surat panjang untuk menceritakan apa saja yang dilihat dan dialaminya. Surat-surta tersebut penuh dengan gambaran tentang daerah yang dikunjunginya, orang yang ditemuinya, terutama tentang keindahan san Francisco dan Pemeran Internasional Panama-Pasifik.
Surat-surat laura, diketemukan setelah ia meninggal, menunjukkan pribadi yang hangat serta penuh rasa ingin tahu dari wanita yang kemudian menulis karya klasik seri Rumah kecil untuk anak-anak, berdasarkan pengalaman masa kecilnya di daerah Barat yang baru dibuka, akhir abad ke-19. Para pembaca yang sudah mengenal seri Rumah kecil akan sangat menyukai perjalanan lebih jauh ke dunia Laura dan keluarganya ini. Mereka yang baru pertama kali membaca karyanya akan terpesona oleh pandangannya yang khusus tentang San Francisco dan kehidupan di tahun 1915
Author Laura Ingalls Wilder
Posted on 07 September 2009 by admin
Rumah Besar telah penuh sesak. Karenanya Pa menjual rumah kecil mereka yang terbuat dari balok kayu, dan membuat sebuah gerobak beratap kain kanpas. Mereka pindah ke Daerah Indian ! Dari Daerah Wisconsin mereka menempuh perjalanan yang sangat jauh ke daerah Oklahoma. Di daerah baru inilah Pa membuat sebuah rumah kecil ditengah padang rumput.
Sepanjang tahun penuh Ma, Pa, Mary dan Laura mencurahkan segenap tenaga dan pikiran mereka pada tanah mereka serta rumah kecil mereka yang aman dan nyaman. Namun ternyata tanah yang mereka mukimi termasuk daerah milik orang-orang Indian, dan akhirnya Pemerintah mengharuskan mereka meninggalkannya.
Author Laura Ingalls Wilder
Posted on 07 September 2009 by admin
Seorang Indian memperingatkan bahwa musim dingin 1880 – 1881 akan merupakan musim dingin yang terburuk di Daerah Dakota, karena itu Pa mengajak keluarganya pindah dari tanah garapan ke kota. Kota Kecil itu diserang salju dan hubungan dengan dunia luar terputus.
Laura dan Mary kini tidak bisa lagi pergi ke sekolah. Ketika Natal telah berlalu dan kebutuhan akan bahan makanan semakin gawat, Almanzo Wilder dan seorang pemuda lainnya memberanikan diri melintasi padang rumput yang kini tertutup es, untuk mencari gandum.
Barulah di bulan Mei salju mencair dan kereta api masuk. Keluarga Ingalls pun menerima bingkisan Natalnya. Dan Natal di bulan Mei inilah merupakan natal terindah yang pernah mereka alami.
Author Laura Ingalls Wilder
Posted on 07 September 2009 by admin
Pada masa pembangunan jalan kereta api serta tahap-tahap terakhir pemukiman daerah Barat, keluarga Ingalls meninggalkan Minnesota — latar belakang buku di Tepi Sungai Plum — menuju daerah Dakota. Sambil menunggu kesempatan untuk mencari dan menempati serta mengusahakan tanah yang dijanjikan pemerintah, untuk sementara Pa bekerja pada perusahaan kereta api. Keluarga Ingalls melewatkan musim dingin di rumah para juru ukur yang tetangga terdekatnya terletak kira-kira tujuh puluh lima kilometer jauhnya. Saat-saat menegangkan terjadi waktu Laura dan Mary untuk pertama kalinya naik kereta api, juga pada waktu terjadi usaha perampasan uang gaji para pekerja kereta api yang dipercayakan kepada Pa. Hari Natal mereka di musim dingin tersebut sangat membahagiakan. Di musim semi Pa mendirikan bangunan kayu pertama di tempat calon kota tanah milik mereka. Dua minggu setelah itu kota yang sama sekali baru itu pun lahirlah.
Author Laura Ingalls Wilder
Posted on 07 September 2009 by admin
Kelompok kecil rumah-rumah para pemukim yang dilanda musim dingin yang buruk dan panjang tahun 1880 – 1881 itu, kini telah menjadi sebuah kota yang tumbuh pesat.
Di sana diadakan perayaan Hari kemerdekaan Empat Juli, dan Laura sudah pergi juga untuk menghadiri suatu malam sosial.
Nellie Oleson yang pengiri itu telah pindah juga dari daerah tepi sunga Plum dan muncul di sana. Dia semakin menjadi gangguan bagi Laura.
kehidupan keluarga Ingalls baik-baik saja. Akhirnya Mary berhasil masuk ke perguruan tinggi untuk orang-orang buta.
Yang paling indah lagi ialah, bahwa Almanzo Wilder minta izin berjalan bersama untuk mengantar Laura pulang dari gereja, dan mereka saling bertukar kartu nama. Laura yang kini berusia lima belas tahun, menerima ijazah untuk mengajar di sekolah.
Author Laura Ingalls Wilder
Posted on 07 September 2009 by admin
Pada tahun 1872, tinggallah seorang gadis cilik bernama Laura Ingalls Wilder bersama ayah, ibu, kakak dan seorang adiknya, disebuah rumah balok di tepi Rimba Besar Wisconsin.
Mereka tinggal terpencil, jauh dari permukiman. Mereka hidup berswasembada, yaitu dari gandum yang ditanam di celah-celah tebangan kayu, dari hewan, burung, atau ikan yang ditangkap ayahnya. Daging hewan, ikan, dan burung ini biasanya diawetkan dengan garam dan asap, disimpan untuk persediaan di musim dingin.
Hidup memang keras dan sukar, tetapi bukan berarti tidak ada kegembiraan dan sukacita, misalnya ketika keluarga itu berkumpul bersama sanak famili pada waktu membuat gula atau pada hari Natal, ketika mereka saling menukar hadia.
Autor Laura Ingalls Wilder