Archive | Maria A. Sardjono

Tags: , , , ,

Cinta Yang Biru

Posted on 10 September 2009 by admin

“Mas,aku ingin membuat pengakuan demi sebuah kejujuran. Hal ini betul-betul mengganjal hatiku. Aku berharap kau mau memaafkan aku. Aku..Aku..su….dah…..tidak pe…ra…wan….lagi, Mas.”

Bagai disambar petir. Abimanyu langsung terenyak. Malam pengantin yang seharusnya begitu mendebarkan dan menggarirahkan, kini menjadi malam yang penuh dengan kekecewaan. Malam pagi menjadi titik awal perubahan jalan hidup Abimanyu dari seorang pria jurur-lurus-setia menjadi lelaki petualang.

“Belilah keperawanan seorang gadis!” begitu Dian, istrinya, memohon di malam-malam dingin ranjang pengantin mereka. “Kalau itu satu-satunya jalan penyelamat perkawinan kita, aku rela.”

Ide gila, itu reaksi awal Abimanyu. Namun, siapa yang menduga justru ide gila itulah awal petualangan mengejar keperawanan seorang gadis demi sebuah keadilan. Ide gila itulah yang mempertemukannya dengan Retno Utari, wanita yang seratus persen masih perawan. Namun, siapa juga yang bisa menduga jika ternyata petualangannya dengan Retno Utari justru menimbulkan persoalan baru dalam hidupnya.

Author Maria A. Sardjono

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Selendang Warna Merah

Posted on 08 September 2009 by admin

Dalam usia tigapuluh satu tahun, di saat Miranda merasa hidupnya mulai mapan dan karirnya sebagai dosen mulai mantap, tiba-tiba ia dihadapkan pada kenyataan yang menyangkut masa lalunya yang kelabu. Enambelas tahun lalu dalam usia amat belia, ketika teman-temannya di SMP sedang bersiap-siap menghadapi ujian, ia justru menghadapi persoalan yang berat. Dia hamil oleh Abimanyu, pacarnya yang masih duduk di kelas dua SMA.

Demi masa depannya, kedua orangtuanya bermaksud menggugurkan kandungannya. Sebaliknya, pihak Abimayu menentang mati-matian. Pada saat yang kritis, Miranda yang keras kemauan itu mengajukan pemikirannya sendiri.

“Saya akan menurut kepada Mama dan Papa untuk meraih ilmu setinggi mungkin, ” begitu dia berkata, “Tetapi untuk saat ini biarkan bayi ini lahir. Setelah lahir, dia boleh diberikan kepada siapa saja yang Papa percayai.

Dan begitu bayi itu lahir sebelum Miranda sempat melihat bayi itu telah dibawa pergi oleh sepupu jauh ayah Miranda. Abimayu dan keluarganya tidak tahu menahu tentang hal itu.

Tetapi kini, bayi yang sudah remaja itu sakit keras dan berada di ambang kematian. Orangtua angkatnya meminta Miranda dan Abimayu datang.

Miranda jadi kacau. Dalam kecemasan atas nasib anaknya yang belum pernah dilihatnya itu, ia masih harus mencari Abimayu entah dia di mana sekarang?

Author Maria A. Sardjono

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Selubung Sutra Dewangga

Posted on 08 September 2009 by admin

Kisah ini bermula ketika Ria menerima berita bahwa ayahnya yang selama ini hidup sendiri, telah meninggal dunia dan seluruh harta miliknya termasuk perusahaannya yang sedang mulai berkembang, jatuh ke tangannya. Gadis berhati sederhana itupun menjadi gentar menghadapi hari esoknya sendiri. Maka timbullah pikiran untuk menukar identitas dirinya dengan Ninik, sahabatnya yang terpaksa mau menuruti rencana gilanya itu.

Demikianlah, dengan menukar identitas, Ria menjadi Ninik dan sebaliknya Ninik menjadi Ria, berangkatlah mereka ke Jakarta menyongsong kehidupan baru yang semuanya masih serba asing.

Ketika Ninik merasa lelah bermain sandiwara dengan berselubung sutra penyamarannya itu serta berniat akan pulang ke kotanya kembali, Ria pun kebingungan. Bagaimana cara mengakhiri permainannya, ia sendiri pun tak tahu.

Jadi, apa yang harus dilakukannya untuk mengatasi kebingungannya itu sementara secara tak disangka-sangkanya, ia justru jatuh cinta kepada si “es batu” Anton itu ?

Author Maria A. Sardjono

Comments (2)

Tags: , , , ,

Sesejuk Belaian Angin Gunung

Posted on 08 September 2009 by admin

Pada perjumpaan pertama kalinya dengan Hari, Wati sudah membencinya. Cara lelaki itu memandangnya begitu kurang ajar. Sudah begitu lelaki itu pulalah yang telah memisahkannya dari pemandangan di luar jendela kamarnya dengan membangun sebuah rumah bercat putih. Wati tak pernah lagi dapat memandangi gunung biru yang cantik itu. Rumah hari telah telah menghalangi pandang matanya.

Begitu bencinya Wati kepada Hari sehingga Dono memberikan ingat bahwa tidak baik membenci seorang lelaki setampan dan segagah Hari.

“Membenci seorang lelaki seperti memikirkannya. Dan itu berbahaya sebab salah-salah, kebencian bisa menjadi sebaliknya!” katanya.

Dan ramalan Dono memang benar. Sayang, Hari si petualang cinta, seniman yang tak pernah mau terikat itu, tak pernah menginginkan Wati menjadi istrinya. Padahal mereka berdua saling mencinta dan mereka berdua mempunyai minat yang serasi pula. Sebagai pengarang lagu, Hari mendapat ilham dari Wati.

Sebagai gadis yatim-piatu yang tidak mempunyai orang tua maupun saudara kandung sikap Hari yang hanya ingin hidup bersama dengannya saja tanpa pernikahan membuat harga dirinya terluka. Dengan keputusan yang mengejutkan, Wati lebih suka memilih menikah dengan Dono.

Bahagiakah Wati dengan pilihannya ? Hanya buku ini sajalah yang dapat menjawabnya. Bahkan Hari yang melihat cassette berisi lagu-lagu ciptaannya ada di tempat sampah rumah Wati pun, tak dapat menjawabnya. Ia hanya mampu bertanya sendiri, mengapa Wati membuang Casseette itu ?

Author Maria A Sardjono

Comments (0)

Tags: , , ,

Misteri Dalam Lukisan

Posted on 08 September 2009 by admin

Sudah sejak awal mula, Sisilia merasa ada suatu kekuatan gaib yang mendorongnya agar terjalin suatu hubungan khusus dengan Hari. Setiap pemuda lain yang mendekatinya, oleh suatu hal yang tak jelas dan seperti diatur oleh tangan-tangan gaib yang tak kelihatan, selalu gagal di tengah jalan.

Tetapi i amerasa tak berbahagia menikah dengan Hari. Selama tujuh bulan perkawinannya, ada-ada saja persoalan yang membuat hubungan mereka mengalami perang dingin atau perang urat syaraf. Maka Sisilia pun memutuskan untuk pergi menenangkan pikirannya ke rumah bude Harun, kakak ibu mertuanya, berharap dapat menyelesaikan kemelut batinnya di sana.

Namun alangkah gelisahnya dia tatkala di sana bukan kedamaian dan hiburan yang didapatinya, melainkan suatu kejadian-kejadian ajaib. Ia jatuh cinta kepada lelaki gagah dalam sebuah lukisan yang membawanya ke duani misteri yang ia tak bisa merumuskannya sebagai apakah pengalamannya itu. kenyataankah. Illusikah, khayalankah atau sebagai mimpikah itu semua !

Author Maria A. Sardjono

Comments (0)

Tags: , , , ,

Musim bunga telah berlalu

Posted on 04 August 2009 by admin

Author Maria A. Sarjono

Ditengah kegersangan hidupnya, Nawangwulan telah melakukan kesalahan fatal. Ia hamil karena terlena oleh kesejukan yang ditawakan Donny, kakak tirinya. Dan kesalahan itu semakin terasa karena Donny ternyata lelaki pengecut yang tak mau bertanggung jawab.

Untuk menutupi aib dan menyelamatkan kariernya sebagai dokter baru, ia berniat pindah ke Sukabumi dan melahirkan disana. Melihat keaadaan Nawangwulan Dana, kakak tirinya yang tertua, tak tahan. Diambilnya tanggung jawab Donny dengan menikahi Nawang.

Berkat kasih sayang tulus Dana padanya dan bayinya, hati nawang mulai mencair. Ia merasa Dana memang mencintainya. Ia yakin, dengan kegagahan fisik dan prestasi yang bagus, pasti mudah bagi Dana untuk mendapatkan wanita-wanita cantik yang belum ternoda. karena itu Nawang pun mulai belajar mencintai lelaki itu, belajar menikmati kemesraan bersamanya.

Di saat hatinya sudah mantap. Donny muncul lagi, Lelaki itu datang meminta maaf atas kesalahannya, dan memohon NawangWulan untuk menjadi istrinya….karena bagaimanapun ia adalah bapak biologis Mia….

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here

Categories