Suasana mapras di SMA mengakrabkan persahabatan Soraya dengan Kintan, Nyadia dan Dicky. Di tengah-tengah galaunya Mapras itu pula Soraya dinobatkan sebagai primadona. Karena kecantikannya menaklukkan kakak-kakak kelas pria. Tetapi ada satu orang yang tidak menunjukkan sikap memuja Soraya. Allan, sang ketua OSIS tetap dingin bagai batu es. Dan yang datang memburu Soraya justru lelaki yang terkenal sebagai play boy.
“Ruben ganti-ganti cewek seperti ganti baju. Kintan! Sudah bosan yang lama, beli lagi yang baru,”
Soraya ingin membalas dendam kaumnya dengan mempermainkan Ruben, sekaligus membakar kecemburuan Allan. Tetapi di saat itulah Soraya di hadapkan pada kenyataan lain.
“Aduh, Aya! kamu ditunangkan?”
“Handy, terlalu tua untukku, Kintan. Aku tidak mungkin bertunangan dengan seorang lelaki yang sepantasnya menjadi pamanku!”
Soraya gadis cantik, lincah, dam modern, tetapi di saat orang tuanya menuntut pengabdiannya, dia rela meninggalkan segalanya.
“Tujuh belas tahun yang lalu mamamu melakukan hal yang sama beratnya, melahirkan kamu.”
Cincin pertunangan pun diukir. Kartu undangan pun dicetak. Soraya telah siap menggadaikan kebebasannya, tetapi ternyata Handy mengecewakannya….
Novel ini menggambarkan dengan manis hiruk-pikuk remaja yang mencari identitas diri dan mencoba memahami cinta.
Author Nina Pane





